
Coba inget lagi tahun 2021, waktu Facebook ganti nama jadi Meta dan Mark Zuckerberg bilang dalam satu dekade metaverse bakal dipakai satu miliar orang dan menghasilkan ratusan miliar dolar perdagangan digital. Itu janji besar yang bikin banyak orang (termasuk saya) mikir dunia virtual bakal jadi hal biasa dalam beberapa tahun ke depan.
Sekarang 2026, dan ceritanya jauh berbeda dari yang dijanjikan. Bulan Maret tahun ini, Meta resmi mengumumkan penutupan Horizon Worlds — platform metaverse andalan mereka sendiri — buat versi headset VR, dan cuma menyisakan versi mobile-nya. Reality Labs, divisi yang menangani semua proyek metaverse Meta, tercatat merugi lebih dari 83 miliar dolar AS secara kumulatif sejak 2020, dengan 19,2 miliar dolar di antaranya cuma dari tahun 2025 saja.
Jadi kalau kamu baca artikel yang masih menjual optimisme “metaverse akan jadi masa depan internet” persis kayak narasi 2022, itu ketinggalan beberapa tahun. Di artikel ini saya coba kasih gambaran yang lebih jujur: apa yang beneran terjadi, apa yang masih hidup, dan apa yang udah jelas gagal.
Yang Terjadi Sama Meta: Dari “Next Frontier” ke Ditutup
Ini yang paling menarik untuk saya bahas karena ceritanya cukup dramatis. Zuckerberg dulu nyebut metaverse sebagai “next frontier” — perbatasan berikutnya buat teknologi. Tapi coba lihat faktanya sekarang:
Di panggilan laporan keuangan terbaru, dilaporkan Zuckerberg bahkan nggak menyebut kata “metaverse” sekali pun — padahal dulu itu kata yang paling sering dia ulang-ulang. Anggaran belanja modal Meta di 2026 dinaikkan sampai 135 miliar dolar, naik dari sekitar 72 miliar di 2025, tapi mayoritas dialokasikan buat infrastruktur AI, bukan VR lagi.
Yang lebih telak: begitu Meta umumkan penutupan Horizon Worlds di Maret 2026, mereka sempat membatalkan keputusan itu 48 jam kemudian setelah protes dari komunitas kreator platform tersebut. Tapi akhirnya di 15 Juni 2026, mereka tetap jalan terus dan mematikan tools pembuatan dunia virtual langsung dari headset — jadi siapapun yang mau bikin atau update dunia virtual di Horizon sekarang harus dikerjakan lewat HP, bukan lagi dari dalam VR itu sendiri. Ironis banget buat platform yang katanya dirancang buat pengalaman “immersive”.
Kenapa Ini Bisa Gagal Separah Ini?
Salah satu analis dari Omdia, George Jijiashvili, bilang secara terus terang: “metaverse sebagai konsep jualan itu sebuah kesalahan.” Ini pendapat yang makin banyak digaungkan pengamat industri di 2026.
Masalah utamanya menurut saya ada dua:
Pertama, jumlah pengguna aktif nggak pernah mendekati target. Target Zuckerberg itu satu miliar pengguna, tapi realitanya Horizon Worlds cuma punya beberapa ratus ribu pengguna reguler — jarak yang sangat jauh dari ambisi awal.
Kedua, orang-orang lebih tertarik ke bentuk teknologi yang lebih praktis. Bukan kebetulan kalau di saat yang sama Meta menutup Horizon Worlds, mereka justru makin fokus ke kacamata pintar Ray-Ban Meta — yang seperti saya bahas di artikel lain, justru laku keras (7 juta unit terjual di 2025). Orang ternyata lebih tertarik teknologi yang menyatu dengan kehidupan nyata mereka, bukan yang minta mereka “masuk” ke dunia virtual terpisah pakai headset berat.
Jadi, Metaverse Beneran Mati Total?
Ini yang penting buat diluruskan: nggak sepenuhnya mati, tapi berubah bentuk drastis. Istilah “metaverse” sendiri mulai ditinggalkan sebagai kata pemasaran — sekarang istilah yang lebih sering dipakai kalangan industri adalah “spatial computing”, mengacu ke teknologi antarmuka komputer yang lebih natural (merespons suara dan gestur), bukan sekadar dunia virtual buat “main-main”.
Ada tiga area yang justru berkembang sehat, kontras banget sama nasib Horizon Worlds:
1. Enterprise/industri — ini yang justru jadi cerita sukses diam-diam. Manufaktur, logistik, kesehatan, pelatihan teknis, dan perawatan jarak jauh adalah sektor yang benar-benar memanfaatkan teknologi ini secara serius, bukan sekadar demo panggung. Perusahaan kayak Siemens, Schneider Electric, dan Nvidia (lewat platform Omniverse) fokus di sini.
2. Gaming, bukan “metaverse sosial” — Roblox dan Fortnite tetap jadi platform yang ramai, tapi karena fungsinya sebagai game dengan elemen sosial, bukan karena orang menganggapnya sebagai “metaverse” dalam arti visi Zuckerberg dulu.
3. Hardware VR premium buat niche profesional — Apple Vision Pro 2 (harganya $3.499) menyasar segmen sangat spesifik: profesional yang butuh spatial computing buat kerja, bukan konsumen umum. Sementara itu, Meta Quest justru dominan di pasar VR konsumen (sekitar 75% pangsa pasar), tapi lebih diarahkan buat gaming, bukan lagi “dunia virtual sosial”.
Yang Diam-Diam Mati Juga (Bukan Cuma Horizon Worlds)
Menariknya, Horizon Worlds bukan satu-satunya yang berguguran. Beberapa produk/konsep terkait yang juga sudah dianggap “mati diam-diam” oleh para pengamat industri di 2026:
- HoloLens 2 (Microsoft)
- Google Glass Enterprise Edition 2
- Penjualan langsung Magic Leap 2
- Metaverse sebagai “konsep tunggal yang terpadu” — sekarang lebih dilihat sebagai kumpulan use-case terpisah, bukan satu visi besar yang menyatu
Ini penting dicatat karena artikel lama yang mungkin masih kamu baca di internet sering menyebut nama-nama ini seolah masih relevan sebagai “masa depan”, padahal kenyataannya udah banyak yang dihentikan produksi atau pengembangannya.
Blockchain dan NFT di Metaverse: Bab yang Sudah Ditutup
Ini yang juga perlu diluruskan dari narasi lama — dulu banyak artikel (termasuk versi lama artikel ini) menyebut kepemilikan tanah virtual atau item digital lewat blockchain sebagai fitur utama masa depan metaverse. Kenyataannya, hype NFT dan “tanah virtual” di platform kayak Decentraland udah jauh meredup sejak 2022-2023, dan di 2026 topik ini nyaris nggak lagi jadi pembicaraan utama industri teknologi.
Kalau Kamu Kerja di Bidang yang Berkaitan, Ini yang Perlu Kamu Perhatikan
Kalau kamu mempertimbangkan investasi waktu atau uang ke teknologi ini, pendekatannya sekarang perlu spesifik per sektor:
Kalau kamu di industri manufaktur, kesehatan, atau pelatihan teknis — ini area yang paling matang dan punya kasus penggunaan nyata. Digital twin (kembaran digital dari mesin/fasilitas fisik) buat desain pabrik, atau simulasi VR buat pelatihan karyawan, itu investasi yang masuk akal dan udah terbukti hasilnya.
Kalau kamu tertarik dari sisi hiburan/gaming — fokus aja ke platform yang emang kuat di situ (Roblox, Fortnite), jangan berharap “dunia virtual sosial” generik jadi tren besar dalam waktu dekat.
Kalau kamu mikir soal bisnis jual aset digital/tanah virtual — ini yang paling saya sarankan untuk dihindari sekarang. Momentum itu udah lewat, dan realistisnya kemungkinan besar nggak akan kembali dalam bentuk yang sama.
Kesimpulan
Metaverse di 2026 bukan cerita kegagalan total, tapi juga jauh dari visi optimis yang dijual tahun 2021. Yang terjadi lebih ke arah seleksi alam — bagian yang punya nilai praktis nyata (industri, pelatihan, gaming) terus berkembang, sementara visi “dunia virtual sosial pengganti internet” yang jadi taruhan besar Meta justru yang paling babak belur.
Pelajaran yang menurut saya paling penting dari cerita ini: teknologi yang benar-benar bertahan biasanya yang menyelesaikan masalah konkret buat penggunanya, bukan yang cuma menjanjikan visi besar tanpa alasan jelas kenapa orang harus pindah dari cara lama yang udah nyaman. Ray-Ban Meta laku keras karena orang tetap bisa hidup normal sambil pakai; Horizon Worlds sepi karena minta orang “masuk” ke dunia terpisah pakai headset berat.
Kalau kamu pernah coba Horizon Worlds atau platform metaverse lain sebelum ditutup, share pengalamannya di komentar — saya penasaran apakah pengalaman kamu sejalan sama data yang menunjukkan platform ini nggak pernah benar-benar ramai, atau justru ada sisi menariknya yang jarang dibahas media.